Tampilkan postingan dengan label Ibunda Bertalu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibunda Bertalu. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Agustus 2012

Hutang Budi Ibu


Belahlah aku ibumu,
ibu yang tak sempurna.
Belalah hakmu, anakku
anak yang selalu sempurna,
di mata ibu
di mata ibu.

Bukan kau, tapi Ibu
yang hutang budi
di dunia ini
lahirkanmu adalah
kutukan pertama kehidupan
yang bagimu, kuberikan.

Maaf, maafkan ibu
bila dunia, tak bisa kujanjikan keindahannya
tak sanggup kutagih kekuatannya untukmu
agar kau dapat melawan balik,
atau setidaknya berjalan bersama
tapi malah,
kesemuanya bagimu, jadi
terlalu memerahperihkan. Maka.
Maafkan Ibu.

Nak, bila kau pilih
jalani hidup sebagaimana adanya
tanpa ingin sengaja mengakhirinya di tanganmu sendiri
meski rusak, luka kelam, terselip tak terperi
ketahuilah,
saat itu hutang budi Ibu mulai terlunasi
berkat semangat memanggul hidup
yang nyasar.


Semarang, 2012

Jumat, 04 November 2011

Radio

Di radio
bicara
lantang
lalu tersedu
kupas tentang
muatan karya

dari telapak tangan
milik ibu.

Hirarki kekerasan
yang ditapaki keluarga
kelas bawah
turun
temurun.

Di mata kantuk
diam tunggu
studio dingin
tatap beku
air mata.

Gadis kecil merabai
lebam semalam
stempel buatan
tulang daging
dan
panas tenaga

dari telapak tangan
milik  ibu.


Semarang,10Okt11


Selasa, 16 Agustus 2011

Doa Ibu


Han,
jauhkan anakku dari
hantu jahat
yang bersemayam dalam
diriku, setiap hari.

Jauh
jauh
jauhkan
ia

dari cengkeram petang
ibuku.

Jangan ulangi
kesalahanMu padaku.
Jangan biarkan
ia berada
di jauh malam.

Jauhkan sejauh
Kau mampu.
Sejauh Kau,
mampu.

15Juli2011

Sabtu, 18 Juni 2011

Rindu Tamasya

Rindu tamasya lahir dari benakmu, Ibu.
Akhir akhir ini, akhir akhir ini. Setelah sendi tulangsendu garang,
lukai jiwa rohmu yang berkobar kobar semangatnya itu.

Aku sempat jengah pada hobimu yang satu itu. Aku sudah bilang,
“Bolehlah kau berjalan ke seribu tempat mimpimimpi dunia,
tapi jangan pernah mampir ke negeri puisiku!”

Kau ngotot dan ingin kesanalah juga.
“Aku sekalian hendak mengantarkan langit dan bumi,
cucucucu perempuan yang berani berlari
dan lebih ngerti daripada kau, dimana itu letak negeri puisi…”

Maka, tamasyalah kau.
Senja hari, di hari senja.

Tapi negeri puisi ini bukan kayangan
yang buatmu segarbaru setelah mengunjunginya
disana adanya sendu hayalan.
Becek duri, dan hanya dapat dikunjungi bila Ibu sendirian.

Kau tahu, Ibu? Menelusuri jalannya sama dengan memerahperihkan
hati kita yang berserakan.
Oleh karenanya cucucucu perempuan kecintaan
takkan ikut tamasya, bersamamu.
Sebab seperti kau kata, mereka lebih ngerti daripada kau
dimana itu letak negeri puisi.


Rindu tamasya lahir dari benakmu, Ibu.
Selalu hadir di jalanjalan kenangan,
selalu tetap dalam angan angan
jika sehat nanti. Ya. Jika sehat nanti.
Tujuan utama Ibu sudah pasti. Sebuah negeri
negeri puisi perih, yang hendak Ibu bantu
bersihbereskan kembali
luka kenang luka kenangnya.



01:10/130611

Senin, 13 Desember 2010

Mimpi Mimpi Bunda


Kau ajarkan tentang
burung yang berani terbang
langittinggi, dan bercerita lantang
sebuah harapan kebebasan
kepada seorang anak perempuan
yang gamang oleh aturan.

Kau serahkan serpihan
sayap sederhana
agar perlahan ia rakit
sambil awasi sedikit,

kau diam
memilih diam
diam diam

kau ratapi
milikmu yang terbakar
oleh api,
yang kau ijinkan mengakar.

O putriku,lepaskan aku dari tanya.

Mengapa ciptakan angin
bila badan mengucap dingin.

Mengapa rentangkan tangan
bila melayang hanya kan angan.



semarang,13des2010

Senin, 09 Agustus 2010

Serapah Ibu


yang sanggup beri warna cinta
merah putih, hitam
dalam hidup

yang sanggup letakkan es dan api
di meja makan
setiap waktu

yang sanggup beri pelukcium
berupa lebam
di badan

yang sanggup buatmu sangsi
tentang diri
kandung kah tiri?

yang sanggup syairkan kuat
tentang kualat
dan kesaktian doa

yang sanggup kipas emosi
berlarian
tiada arah kendali

yang sanggup menjebakmu di satu titik
terkunci mati
pada ambigu dan kontradiktif

yang sanggup buatmu
berpikir indahnya
membunuh
diri


semarang,09agustus2010

Selasa, 13 Juli 2010

Ibu Adalah Laut


Ibu adalah laut
rahim tempat kehidupan
terlindung
bahu tempat penghidupan
bergantung.

Ibu adalah laut
garami kisah yang tawar
kerapuhan ditiupi angin
desah desau misteri
kekuatan datang dari ratapan.

Siapa hidup
di peluk Ibu
siapa mati
di genggam Ibu

siapa
siapa yang kira
kemana jiwa bergerak
siapa.

Tapi Ibu adalah laut
yang pasrahkan diri diwarna langit
tengadah nantang mataharibulan genit
yang gantian bercermin tanpa ampun.

Oh,

seperti berada di ujung maut
dalam buai bayang takut
sungguh mati disini,
ibu kesepian seperti laut.


2010

Kamis, 29 April 2010

Lewat Kaca Spion


Keseharian ini tiba.
Kau kejar kupu kupu
kutata masa depanmu.
Pagi ingatkan keterpisahan.

Tangan kau kecup.
Wajah kucium.
Letakkan berkat di dahi.
Bersiap saling melambai.

Kendaraan melaju.
Kau pandangi punggung,
kutatap utuhmu lewat kaca.
Lambaian jauh menjauh
menuju hilang.

Rayap misteri jalari sukma,
mengapa jalan tak mau henti.
Tiada rambu kujumpa,
tanda jeda tuk istirah.

Sejak kini,
aku bagai seorang spion
yang terbatas ikuti gelakmu
terpaku bisu menahan rindu
lewat kaca spion.

Jaga baik dirimu, sayang.
Meski mendung meski malam,
mentari tak kemana bukan?

Kali ini,
ibu pamit pergi
tanpa tanda kembali.


2010

Jumat, 09 April 2010

Kepada yang Hanya Bayang


aku mau sakit
yang terkapar
yang sekarat

bila disana
rupa dermaga
siap merapatkan

desah ibu
ke telingaku


2010

Senin, 22 Maret 2010

Bu, Apakah Kau Ingin Tahu?


apakah kau ingin tahu, bagaimana aku mendewasa?
aku mendewasa oleh lintasan waktu yang tak kumengerti
tanpa ampun, cari dan temui mimpi. sendiri.
tak ada kau
tak ada kau

aku berada di sudut sudut pasar, mencincang harga diri
demi sisa citacita yang hampir terenggut
jatuh terseret mimpi memeluk pundi
sendiri. sendiri. dimana kau?

aku bertahan di tepian terminal, kumpuli peluh menelan sabar
telateni pagi petang yang panjang
demi masa depan yang terlihat remang
kau? mengapa tak beri kabar?

aku tidur dimanamana kemanamana, caricari kasih
dari kasih kucari harap dari harap kucari damai
sesekali kudapati aku tertinggal diantaranya
belas kasihmu, kemana?

aku nangis sambil mengais kabar tentangmu
yang tak pernah datang dari dirimu
aku pergi ke segala penjuru
nelangsa kesepian aku, mengadu pada rindu

ngertikah kau, bagaimana aku mendewasa?
diantara waktu waktu yang hilang dan terbuang
tentangmu ya, tentangmu di hidupku
senyatanya, tak ada aku di rindumu
tak ada aku di doamu
tak ada

jadi, pahami dan terimalah kini,
aku mendewasa bukan karna kau
kita hanya terikat oleh takdir
dan aku,
sanggup merubah nasibku. sendiri.


2010

Tak Hendak Aku, Ibu


tak hendak usir,
aku hanya coba bersihkan
remah remah kotor di lantai
dengan sapu kebaikan

tak hendak usir,
aku hanya nyalakan kipas
datangkan sejuk dari panas
jauhkan kayu dari api

tak hendak usir,
aku hanya taburkan wewangi
biar ruang pengap berakhir
segala yang singgah melihat damai

lama kudamba hari ini
sejak ku masih kuncup
dan nyaliku begitu ciut
semangatku layu tak henti

aku hanya ingin, sekali saja
hancurkan aku si peragu
lepaskan diri dari belenggu
demi merdeka

biar,
biar mendung
bukan pembawa murung
biar gerimis
bukan pertanda tangis

maka,
tak hendak aku, usir dirimu
aku hanya tak punya hasrat
tuk menahan pergimu

ibu


2010

Hilang Ibu


ibu sudah hilang
pagi pagipagi pagi gelap buta
ibu itu ibuku hilang
mata harimau mulut kucing
tercoret luka ulu hati membengkak

bayang ibu tak sampai mati
tapi kuingin dia yang mati
tetekmu hambar tak ada susu
susu pahit lagi beracun

ibu kelabu dibalik kelambu
bermain selangkang terus mekangkang

jiwaku robek beribu jahitan
kakiku, tertanam milyaran pasir laut
payah berlari lekas tergesa
caricari ibu
yang kuingin hilang

mana dimana mana kemana
mana mengapa mana bagaimana

ooouuuhhhhaaaayyyy

hati belatung lalu seribu bunga
bunga seribu lalu belatung hati

yang punya cuma kau
cuma kau yang punya
yang cuma punya kau


2004

Perempuan Singa


tak pernah nyaman berbagi denganmu,
ibu
pada murkamu yang garang
kau serukan bilik bilik rahasia
milikku

egoku menguncup malu,
pilu sejadi jadinya
pada diriku si peragu
setia tertahan amarah yang kuyu
: aku benci dirimu

harusnya aku tahu
uban dikepala tak pernah mampu
paksa hatimu tuk sejenak bijak

harusnya aku juga tahu
bersamamu
sebentar domba, lalu mengaum

ah,
mengapa singa tak pernah mengembik


lagi,
anganku tertepis badai

ke dekatmu

ke dekapmu

sia sia


2009

Merindui Ibunda


. . . . a k a n k a h k a u j a d i d u r h a k a ,

b i l a k u t e r i a k k a n k u t u k a t a s m u . . . .



2009

Emak Datang Tengok Anaknya 2


maafkan aku, Mak
dukaku belum semerah kau menangis
belum kumampu beli
kesenanganmu ingin kuberi
oleh-oleh bagi cinta tak terperi
karna keringatku belum sebening kau mengais
bahkan untuk sekeranjang salak

mata seorang anak memelas
mata seorang ibu penuh welas


2004

Emak Datang Tengok Anaknya 1


kau tiba pada kota tempat kurantau
dalam bayang kasih seluas kalbu
dalam balutan kain teduh menghijau
dalam segunung tanya berpeluk harapan rindu

cemas seorang ibu membiru

sayapku masih rapuh, Makku sayang
burung yang baru belajar terbang
belum ahli mencipta sarang
masih takut langit yang garang

resah seorang anak mengerang

jika kembali ke rumah
tolong kabarkan pada Abah
darahku tertanam pada pasir megah
tak mudah diancam rebah

tekad seorang anak membuncah
tangis seorang ibu yang cerah


2004

Minggu, 21 Maret 2010

Menjenguk Ibu


ibu itu bukan ibuku
selang selang entah
tusuk tusuki tubuh
keras dan kaku
belasan tahun yang layu
mata jadi tanda hidup
kata kata ganti dengkur

ibu itu bukan ibuku
uban mengelus rambut
keriput memeluk kulit
senja menyapa senyap
wajah ibu tidur disana

aku

tersentak oleh rindu
pada bentakan ibu
pada pukulan ibu
pada tendangan ibu

bu,
demi bilur tubuhku
demi lebam jiwaku
demi ungu darahku

datang dan rajamlah
anakmu


2010

Selasa, 02 Maret 2010

Diamlah Nak, di Balik Bangkai Ibu

revisi Hudan Hidayat atas Puisiku:'Bekal Dari Ibu'


mari nak, kemari
ibu ajari
cara berpura mati
bila saatnya nanti

serdadu Tuhan, datang
menyisir bangkai
kau, diamlah
di balik bangkai ibu

nasib itu
pasti, nak

meski mungkin
tiada semesta
tanpa Pencipta


Maret 2010

Minggu, 21 Februari 2010

Bekal dari Ibu


mari nak, kemari
biarkan kau ibu ajari
cara berpura pura mati
bila tiba masanya nanti

serdadu Tuhan datang menghentak
menyisiri bangkai bangkai kelu
kau, diamlah dibalik bangkai ibu
kita kelabui naluri tajam mereka

tak lupa ibu kan ajari
hidup sendiri menjadi diri

meski mungkin

tiada semesta
tanpa Pencipta


Semarang,peb'10

Rabu, 20 Januari 2010

Di Malam Tanpa Bintang, Ibu Menangis Tersedu


Bila kuingat betapa aku menyintai lelaki yang membawaku ke masa depan, kuharap seorang anak kan lahir darinya, biar lengkap hidup ini.

Bila kuingat saat benih dari yang kucinta tumbuh di rahimku, hatiku melonjak gembira, keajaiban boleh kualami.

Bila kuingat doa doa jagai janin, kubiarkan rasa rasa aneh jadi keluh yang kusimpan, sambil kujalani senyum atas beban hidup yang tak mudah, karna kekuatan baru kupunyai.

Bila kuingat sembilan bulan lebih kutahan segala rasa ingin tahu, sakit masa persalinan yang memerah, berlalu jadi bahagia tak terkata, lahir tangis kuat bayi.

Bila kuingat betapa aku menyintai bayi mungil yang akan kubawa kepada masa depan, dari padanya sulur harapan lahir dari benakku, betapa lengkap hidup ini.

Dimalam tanpa bintang,
aku menangisi anakku yang hilang dalam peluk.
Dimalam tanpa bintang,
aku menangisi hari hari yang menggila tanpa titik temu.
Dimalam tanpa bintang,
aku menangis, terasa kabur wajah anakku.

Tak ada jejak di dalam angin,
tatap matahari penuh rahasia.
Semua berhenti pada malam tanpa bintang,
meski bertubi tubi pukuli diri.

Haruskah kusiapkan pedang,
tuk meghunus tubuh mereka yang tak mengerti
hati seorang ibu?
Atau
seikat bunga tuk siapkan kehadiran anakku yang entah.

Dimalam tanpa bintang, aku menangis tersedu.


20Jan10,Rebo

untuk para ibu yang anaknya telah diculik oleh hewan yang tak malu menyebut dirinya manusia.