Di radio
bicara
lantang
lalu tersedu
kupas tentang
muatan karya
dari telapak tangan
milik ibu.
Hirarki kekerasan
yang ditapaki keluarga
kelas bawah
turun
temurun.
Di mata kantuk
diam tunggu
studio dingin
tatap beku
air mata.
Gadis kecil merabai
lebam semalam
stempel buatan
tulang daging
dan
panas tenaga
dari telapak tangan
milik ibu.
Semarang,10Okt11
Jumat, 04 November 2011
Duri
Baiklah,
kugenggam
duri ini.
Kujanjikan
pasti
untuk memilihnya.
Genggam duri
sampai mati,
tapi tidak dengan caraMu
tidak
tidak lagi.
Semarang,3Sept11
kugenggam
duri ini.
Kujanjikan
pasti
untuk memilihnya.
Genggam duri
sampai mati,
tapi tidak dengan caraMu
tidak
tidak lagi.
Semarang,3Sept11
Jumat, 26 Agustus 2011
Rapuh
Ini saat tepat
setubuhi aku.
Sebab, aku sedang berjalanjalan
sambil asyik membawa luka.
Luka adalah
sebuah
ruang kosong
tanpa kunci.
Pintu membuka
lebar
aku membiarkannya.
Segala bentuk
salah khilaf
masuk
atas ijin bahasa tubuh.
Silahkan.
Silahkan.
Silahkan datang malapetaka.
Tapi yang ada dalam pandang mata,
adalah anugerah langit
menyala nyala.
Ini saat tepat
setubuhi aku.
Besar hasrat besar harap
seseorang datang dan berhasil
membuatku terjerumus
mampus
ke dasar luka.
26Agst2011
setubuhi aku.
Sebab, aku sedang berjalanjalan
sambil asyik membawa luka.
Luka adalah
sebuah
ruang kosong
tanpa kunci.
Pintu membuka
lebar
aku membiarkannya.
Segala bentuk
salah khilaf
masuk
atas ijin bahasa tubuh.
Silahkan.
Silahkan.
Silahkan datang malapetaka.
Tapi yang ada dalam pandang mata,
adalah anugerah langit
menyala nyala.
Ini saat tepat
setubuhi aku.
Besar hasrat besar harap
seseorang datang dan berhasil
membuatku terjerumus
mampus
ke dasar luka.
26Agst2011
Selasa, 16 Agustus 2011
Doa Ibu
Han,
jauhkan anakku dari
hantu jahat
yang bersemayam dalam
diriku, setiap hari.
Jauh
jauh
jauhkan
ia
dari cengkeram petang
ibuku.
Jangan ulangi
kesalahanMu padaku.
Jangan biarkan
ia berada
di jauh malam.
Jauhkan sejauh
Kau mampu.
Sejauh Kau,
mampu.
15Juli2011
Renang Kenang
Aku berenang
di laut kenang
kala,
membuka lemari tua
pakaian papa rapi tertata
masih
kenang berenang fasih.
Kutarik sebuah kaos putih
kupakai sambil berenang
melekat rapuh dan rapi
ada papa di dalam kenang.
Pipihatiku, pernah ditampar papa.
Setelahnya disayang sayang.
Tangisku ditimang timang
sampai kantuk tersampir
di pundak papa.
Ketakberdayaan angkuh
aku takjub sungguh.
Kita, mungkin memang miskin
tapi tak compang camping.
Aku mati karena perbuatannya
aku hidup dari kata katanya
papa lebih tampan dari mama
papa lebih cantik dari mama
senyatanya hanya kata
warisan ampuh
bagi sembuh
lukaduka.
Air kenang berlinang
aku harus terus berenang
menuju tepi, segera
halau rindu
halau rindu,
aku terseret kenang.
01:15WIB11juli11
di laut kenang
kala,
membuka lemari tua
pakaian papa rapi tertata
masih
kenang berenang fasih.
Kutarik sebuah kaos putih
kupakai sambil berenang
melekat rapuh dan rapi
ada papa di dalam kenang.
Pipihatiku, pernah ditampar papa.
Setelahnya disayang sayang.
Tangisku ditimang timang
sampai kantuk tersampir
di pundak papa.
Ketakberdayaan angkuh
aku takjub sungguh.
Kita, mungkin memang miskin
tapi tak compang camping.
Aku mati karena perbuatannya
aku hidup dari kata katanya
papa lebih tampan dari mama
papa lebih cantik dari mama
senyatanya hanya kata
warisan ampuh
bagi sembuh
lukaduka.
Air kenang berlinang
aku harus terus berenang
menuju tepi, segera
halau rindu
halau rindu,
aku terseret kenang.
01:15WIB11juli11
Sabtu, 18 Juni 2011
Rindu Tamasya
Rindu tamasya lahir dari benakmu, Ibu.
Akhir akhir ini, akhir akhir ini. Setelah sendi tulangsendu garang,
lukai jiwa rohmu yang berkobar kobar semangatnya itu.
Aku sempat jengah pada hobimu yang satu itu. Aku sudah bilang,
“Bolehlah kau berjalan ke seribu tempat mimpimimpi dunia,
tapi jangan pernah mampir ke negeri puisiku!”
Kau ngotot dan ingin kesanalah juga.
“Aku sekalian hendak mengantarkan langit dan bumi,
cucucucu perempuan yang berani berlari
dan lebih ngerti daripada kau, dimana itu letak negeri puisi…”
Maka, tamasyalah kau.
Senja hari, di hari senja.
Tapi negeri puisi ini bukan kayangan
yang buatmu segarbaru setelah mengunjunginya
disana adanya sendu hayalan.
Becek duri, dan hanya dapat dikunjungi bila Ibu sendirian.
Kau tahu, Ibu? Menelusuri jalannya sama dengan memerahperihkan
hati kita yang berserakan.
Oleh karenanya cucucucu perempuan kecintaan
takkan ikut tamasya, bersamamu.
Sebab seperti kau kata, mereka lebih ngerti daripada kau
dimana itu letak negeri puisi.
Rindu tamasya lahir dari benakmu, Ibu.
Selalu hadir di jalanjalan kenangan,
selalu tetap dalam angan angan
jika sehat nanti. Ya. Jika sehat nanti.
Tujuan utama Ibu sudah pasti. Sebuah negeri
negeri puisi perih, yang hendak Ibu bantu
bersihbereskan kembali
luka kenang luka kenangnya.
01:10/130611
Akhir akhir ini, akhir akhir ini. Setelah sendi tulangsendu garang,
lukai jiwa rohmu yang berkobar kobar semangatnya itu.
Aku sempat jengah pada hobimu yang satu itu. Aku sudah bilang,
“Bolehlah kau berjalan ke seribu tempat mimpimimpi dunia,
tapi jangan pernah mampir ke negeri puisiku!”
Kau ngotot dan ingin kesanalah juga.
“Aku sekalian hendak mengantarkan langit dan bumi,
cucucucu perempuan yang berani berlari
dan lebih ngerti daripada kau, dimana itu letak negeri puisi…”
Maka, tamasyalah kau.
Senja hari, di hari senja.
Tapi negeri puisi ini bukan kayangan
yang buatmu segarbaru setelah mengunjunginya
disana adanya sendu hayalan.
Becek duri, dan hanya dapat dikunjungi bila Ibu sendirian.
Kau tahu, Ibu? Menelusuri jalannya sama dengan memerahperihkan
hati kita yang berserakan.
Oleh karenanya cucucucu perempuan kecintaan
takkan ikut tamasya, bersamamu.
Sebab seperti kau kata, mereka lebih ngerti daripada kau
dimana itu letak negeri puisi.
Rindu tamasya lahir dari benakmu, Ibu.
Selalu hadir di jalanjalan kenangan,
selalu tetap dalam angan angan
jika sehat nanti. Ya. Jika sehat nanti.
Tujuan utama Ibu sudah pasti. Sebuah negeri
negeri puisi perih, yang hendak Ibu bantu
bersihbereskan kembali
luka kenang luka kenangnya.
01:10/130611
Langganan:
Postingan (Atom)