Senin, 22 Maret 2010

Tanah Tumpah Darah


manakah mungkin
aku mencari sehelai nafas pada tanah berbangkai pilu
sedang menatapnya, tak ada beda dari menciumi darah leluhur
ketukketuk kuat nyala kepala pada ingatan yang dingin
ketika angin bergigi tajam cabuli tubuh, robek kesucian
hapus lekas jiwa yang bergentayangan, masih mencari
jati diri yang belum usai, bertahan tuk satu genangan
tanah air yang anyir
sarat gundukan cintalukadendam, membengkak
oleh pukulan api tajam bertubi, hingga puas tentukan
tumpahan darah, yang tandai tanahku, atau
tanahnya, atau
tanahmu,

mengapa tidak tanah kita.


2004

Kepada Tuhan dan Penyair


tolong

jangan jadikan aku sahabat
apalagi kekasih

jangan hendak pinang aku
jadi pendamping

aku tak sanggup
menatap mata
basah penuh cinta
harus dibagi

atau kulihat
tubuh tubuh mereka
bergelayut mesra di lengan
yang rakus kupeluk

atau bibir bibir kering
dan gusar, habis ciumi
wajah sepi
mata sunyi
duh,
lidah senyap

aku belum sanggup
matikan ego
menuntut penuh peluh
bagi diri

aku hanya pencemburu berat,
dengan hati compang camping,
masih sulit kulepas
kata ranum mata sayup
yang membisiki telinga
agar terjaga akan sabda,
'cintailah sesamamu 
seperti kamu
mencintai dirimu 

sendiri'


2010

Minggu, 21 Maret 2010

Menjenguk Ibu


ibu itu bukan ibuku
selang selang entah
tusuk tusuki tubuh
keras dan kaku
belasan tahun yang layu
mata jadi tanda hidup
kata kata ganti dengkur

ibu itu bukan ibuku
uban mengelus rambut
keriput memeluk kulit
senja menyapa senyap
wajah ibu tidur disana

aku

tersentak oleh rindu
pada bentakan ibu
pada pukulan ibu
pada tendangan ibu

bu,
demi bilur tubuhku
demi lebam jiwaku
demi ungu darahku

datang dan rajamlah
anakmu


2010

Jumat, 12 Maret 2010

Y. B. Mangunwijaya (Mimpi Bertemu)


sungguh,
aku tak pernah tahu, bahkan bertemu, bahkan bercengkerama
tertidur berpeluh mimpi, suatu malam yang sembunyi
dalam buaian halus sayap sofa violet

manusia berwajah samudera,
keluar dari penjara yang terpaksa
ditandu puluhan pemuda berwajah dendam dan kasih,
setelah para domba bersisik ular itu menyiksa tubuh ringkihnya
memotong acak benang putih rambutnya
dengan semangat api setia teguh, para pemuda itu
menggendongnya sehangat sayang
melekat erat dalam raganya, hingga pada suatu persimpangan
matanya dan takutku beradu, membawanya berhenti tepat di depanku
sedekat mataku ia berseru lantang,
sambil tangan kanannya terkepal mengacung
“ Sampai kapanpun, perjuanganku takkan pernah berakhir!”
dada ringkih membusung berlalu pergi
para pemuda bersitatap dengan nafasku satusatu
lalu dari sudut aku berdiri, kulihat jelas kedua kakinya yang menggantung
tanpa tungkai dan telapak!
kurasa sangat dengan hati pedih, domba bersisik ular itu
coba habisi ia yang tak pernah surut nadinya

tapp!!
bangun aku berkawan peluh terkait tanya membukit
kuingat ceritera kawanku beberapa purnama lalu,
sepulang dari misa requiem melepas pergi seorang tokoh bangsa
ia berkisah tentangnya dengan mata penuh embun

mendesir darahku berpadu ingatan melilit jantung
manusia berwajah samudera, melekat erat hati kita
nyatanya ia adalah beliau, adalah engkau,

Romo.


Semarang – 2000

Kamis, 11 Maret 2010

Rabu Abu


Serupa wajah Yesus yang arif
katakan tentang mati raga
lakukanlah, tanpa munafik
letak kepalsuan meraja.

Berbekal ayat suci
ajak kami minyaki
kepala, dan cuci
wajah ini.

"Mari belajar menyangkal diri,
doa, pantang, puasa,
tanpa munafik,"

tanpa munafik.

Kau beranjak pergi
dibalut jubah damai
sebarkan ajaran suci
sampai ke ujung bumi.

Salib abu di dahimu,
mengapa belum juga kau hapus?


Semarang,Peb'10

Ditindihi Gengsi


ini surat untukmu, sayang
tengoklah, aku ada dibelakang

ah. kau pergi melenggang
kepalang pulang


2010

Selasa, 02 Maret 2010

Diamlah Nak, di Balik Bangkai Ibu

revisi Hudan Hidayat atas Puisiku:'Bekal Dari Ibu'


mari nak, kemari
ibu ajari
cara berpura mati
bila saatnya nanti

serdadu Tuhan, datang
menyisir bangkai
kau, diamlah
di balik bangkai ibu

nasib itu
pasti, nak

meski mungkin
tiada semesta
tanpa Pencipta


Maret 2010