Rabu, 13 Januari 2010

Dicari: Sebentuk Lupa


Gigih,
kuputuskan saja tuk mencari lupa
sebulat bulatnya seutuh utuhnya
lupa
lupa


semua orang menolak lupa
tiba tiba kebingungan
lalu jadi jengah berkepanjangan
dan
di ujung pagi terpenjara murka
karna terpeluk lupa

tapi aku,
malah harus kucari cari
lupa
atau kupaksa curi curi
lupa

sebentuk lupa ini,
yang kutolak juga kuingini
ku angan angani pula kutepis tepis

aku harus ciptakan lupa,
berusaha dilanda lupa,
lakukan sebentuk lupa,
sambil diam diam belajar mengeja

lu

pa

lalu tertatih
cintai lupa sejak ini
yang mulanya jadi benci
oh sedih.



Jan10

Diskusi


sembari tunggu butir kopi luruh

menuju ke dasar kaca yang keruh

kita bercengkerama hingga larut

tentang wajah wajah kusut

tentang kehidupan carut marut

tentang membuka tali kasut

dan surga yang mengerucut

berikut

ada mimpi yang makin runcing kita serut


hei, siapa hendak ikut?


Jan10

Tanya Untuk Ibu


Bu,
mengapa kau bunuhi aku
saat dunia sudah kau gelar dihadapan,
berikut sebait kisah yang baru mulai kumengerti
satu satu?

Apakah arti,
rerupa karut marut kehidupan,
yang sering kau katakan
lewat gelegar teriak dan tangis
yang kau bentang di setiap peluk?

Bukan sakit bukan darah atau rerintih perih, tapi
mengapa jiwa kau ambil jadi ganti, dari
kalut pikir yang buat hantu menari
lalu menepi jadi diri?

Apakah Ibu ngerti,
rerupa binar cerah kegembiraan,
yang buatku giat bermain
lewat gelegar teriak dan tawa
yang kurindu di setiap peluh?

Ruh ku mendewasa makin,
di kehidupan yang belum kau jamah, kala
segala tanya masih saja
tuntut jawab hadir bergilir.

Bu,
apakah kau sungguh Tuhan,
karna
kau yang beri kehidupan
maka
kau pula yang berhak

mengambilnya?


Jan10,senen


bagi anak anak yang telah mati dibunuh ibu kandungnya sendiri

Kembalikan Ibu


Aku menghardik bulan.
Untuk apa kau mematung disana, bila
segelintir saja yang mampu memandang
binar cahya dekat melekat serupa

wajah keibuan ibu.


06Jan10,rebo

Selasa, 12 Januari 2010

Cinta Mati di Puncak Gunung

: Soe Hok Gie


Bersetubuh ribuan bintang aku terlentang,
tantang dingin yang bikin beku,
terbalut kabut,
terpejam pada nikmat.

Mentari hanya hayalan, namun cinta siapa nyana.
Sama hangat sama membara sama pijarnya.

Bayangmu dekat dan kuat,
erat melekat ikati tubuh kita yang pekat merekat,
kudekap cinta yang tak pernah lepas

terlempar

terhempas

lalu kandas

dan
bersamaan dengan itu,

katakata yang kau tinggalkan disini
empat puluh tahunan lalu
tetap saja kucermati.

Entah mengapa,
kau hampiri mataku yang penuh rindu, sambil
sayup Joan Baez nyanyikan Donna Donna
ikut berputar bagai gasing dibelai lilit,
berdesing nyaring beriring.

Hendak kemana menujuku kini.

Ah, tetap saja.
Pilihanku bersamamu,
kala mati muda jadi kebahagiaan
menyepi berjanji misteri.

Pantaskah, Gie?

Kuharap di bawah sana
barisan duka bergegas usai.


5Jan10,slasa

Sebelum Berada di Dasar Mal


berapa harga sebatang gincu
pulas bibir biar indah menceracau
berapa harga sepetak bedak
pupur wajah biar itu sinar bikin muka tegak
berapa harga pakaian hendak kau beli
tertawa geli dalam tangan mendamba
damba decak kagum yang bayang
seratus ribu? duaratus? satu juta? dua? lebih?

semuamuanya

bagi tubuhmu
yang belum kaku
jadi batu
atau
abu


15Des09,slasa

Senin, 07 Desember 2009

Yang Tak Tersentuh


kusentuh kakimu,
kakimu air

kugenggam tanganmu,
tanganmu angin

kucium bibirmu,
bibirmu api

kupeluk tubuhmu,
tubuhmu abu

hei surga,
bagaimana kita bersenggama,
bila tak pernah manusia.


Sabtu,28Nop09